Kita,Tuhan,Mati

December 2nd, 2008 by maskresna

Kita mati bila tak kita ciptakan Tuhan
Kita mati bila tak kita bunuh Tuhan
Teriak lanc[t]ang Adonis
Begitu pun kita
Terpisah bila kita tak ciptakan Tuhan
Terpisah bila kita tak bunuh Tuhan
Lant[c]ang menentang tafsir kebenaran
dari puing puing berhala yang membatu

Sebuah Refleksi

December 2nd, 2008 by maskresna

Suatu ketika, Tuhan memanggil seorang oknum umat islam.

“Hei, Kamu! Kemana aja kamu!” Kata Tuhan, agak membentak.

“A-a-apa, maksud-MU, Tuhanku?” kata si oknum tergagap, bingung bercampur takut. Disusul kemudian dengan jawaban polos…

“Aku masih di bumi, kok, Tuhan. MembelaMU. Mempertahankan agamaMu. Menjaga akidah yang benar tentangMu.”

“Membelaku? Mempertahankan agamaku? Menjaga akidah?” kata Tuhan yang disahut dengan anggukan polos si oknum itu. “Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?”

Melihat pertanyaan Tuhan ini, si oknum menyunggingkan senyumnya, merasa itu adalah pertanyaan mudah. Dengan lugas, si oknum menjawab…

“Kami berhasil menekan Lia Eden dan pengikutnya. Walaupun saat ini dia sudah bebas dari penjara, tapi kami jamin, ajaran dan pengikutnya tak akan meluas…
Kami sudah berhasil menjadikan Mushadeq, yang pernah mengaku sebagai nabiMU untuk abad ini, bertaubat… Kami sudah berhasil menyudutkan Ahmadiyah… Kami melarang umatMU untuk mengucapkan ucapan selamat hari raya agama lain kepada pengikutnya… Kami haramkan sekulerisme, pluralisme, liberalisme… Kami haramkan nikah beda agama… Kami haramkan wanita jadi imam shalat…”

“Kami melarang Dewi Persik bergoyang… Kami mengharamkan goyang ngebor Inul… Film-film yang mengumbar pornoaksi kami larang tayang… Kami melarang ini… Kami mengharamkan itu… Kami menyesatkan aliran ini… Kami menyesatkan kelompok itu… Kami juga sedang membentuk tim investigasi untuk menyelidiki yoga. Kami sudah bla, bla, bla, bla, bla… Pokoknya kami sudah banyak berjuang untuk li i’laa i kalimatillah demi tegaknya ‘izzul islam wal muslimin…”

“O, begitu,” Tuhan mendengar jawaban si oknum dengan raut ekspresi biasa
saja. Si oknum seperti terlihat bangga dengan wajah berseri-seri.

“Btw, kamu dari mana?” kata Tuhan.

” Indonesia , Tuhanku.”

” Indonesia ? Yang banyak orang miskin itu? Kelaparan? Pengangguran? Yang pembangunan kesejahteraannya tidak merata? Yang ada bencana lumpur Lapindo di sidoarjo? Yang korban-korbannya banyak yang masih menderita? Yang sebagian umatnya pernah membakar “rumahKu” itu? Yang ini… Yang itu… Yang ini dan yang itu… bla… bla…”

“inggih, saestu, Tuhanku.”

“Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?” tanya Tuhan selanjutnya.

“Maaf, Tuhan, aku pikir sudah ada yang berwenang untuk menyelesaikan
masalah-masalah itu. Jadi kami tidak perlu turut campur. Lagian kami tidak
sempat melakukannya, di tengah kesibukan tugas-tugas kami itu.”

“Apa Kamu bilang!!! Pergi!!! Kamu tak pantas menemuiku!!!”

Terdengar tamparan keras yang menjungkalkan si oknum itu.

- - -

Sebuah refleksi…

Dalam satu hadis qudsi, pada hari kiamat kelak, dikisahkan Allah berdialog
dengan hambaNya. “Wahai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak
menjengukku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberiKu makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberiKu minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuimu dan menjengukMu, memberiMu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Allah SWT menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscaya Kau akan menjumpaiKu di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

::Dari tetangga sebelah

Sebuah refleksi

December 2nd, 2008 by maskresna

Suatu ketika, Tuhan memanggil seorang oknum umat islam.

“Hei, Kamu! Kemana aja kamu!” Kata Tuhan, agak membentak.

“A-a-apa, maksud-MU, Tuhanku?” kata si oknum tergagap, bingung bercampur takut. Disusul kemudian dengan jawaban polos…

“Aku masih di bumi, kok, Tuhan. MembelaMU. Mempertahankan agamaMu. Menjaga akidah yang benar tentangMu.”

“Membelaku? Mempertahankan agamaku? Menjaga akidah?” kata Tuhan yang disahut dengan anggukan polos si oknum itu. “Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?”

Melihat pertanyaan Tuhan ini, si oknum menyunggingkan senyumnya, merasa itu adalah pertanyaan mudah. Dengan lugas, si oknum menjawab…

“Kami berhasil menekan Lia Eden dan pengikutnya. Walaupun saat ini dia sudah bebas dari penjara, tapi kami jamin, ajaran dan pengikutnya tak akan meluas…
Kami sudah berhasil menjadikan Mushadeq, yang pernah mengaku sebagai nabiMU untuk abad ini, bertaubat… Kami sudah berhasil menyudutkan Ahmadiyah… Kami melarang umatMU untuk mengucapkan ucapan selamat hari raya agama lain kepada pengikutnya… Kami haramkan sekulerisme, pluralisme, liberalisme… Kami haramkan nikah beda agama… Kami haramkan wanita jadi imam shalat…”

“Kami melarang Dewi Persik bergoyang… Kami mengharamkan goyang ngebor Inul… Film-film yang mengumbar pornoaksi kami larang tayang… Kami melarang ini… Kami mengharamkan itu… Kami menyesatkan aliran ini… Kami menyesatkan kelompok itu… Kami juga sedang membentuk tim investigasi untuk menyelidiki yoga. Kami sudah bla, bla, bla, bla, bla… Pokoknya kami sudah banyak berjuang untuk li i’laa i kalimatillah demi tegaknya ‘izzul islam wal muslimin…”

“O, begitu,” Tuhan mendengar jawaban si oknum dengan raut ekspresi biasa
saja. Si oknum seperti terlihat bangga dengan wajah berseri-seri.

“Btw, kamu dari mana?” kata Tuhan.

” Indonesia , Tuhanku.”

” Indonesia ? Yang banyak orang miskin itu? Kelaparan? Pengangguran? Yang pembangunan kesejahteraannya tidak merata? Yang ada bencana lumpur Lapindo di sidoarjo? Yang korban-korbannya banyak yang masih menderita? Yang sebagian umatnya pernah membakar “rumahKu” itu? Yang ini… Yang itu… Yang ini dan yang itu… bla… bla…”

“inggih, saestu, Tuhanku.”

“Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?” tanya Tuhan selanjutnya.

“Maaf, Tuhan, aku pikir sudah ada yang berwenang untuk menyelesaikan
masalah-masalah itu. Jadi kami tidak perlu turut campur. Lagian kami tidak
sempat melakukannya, di tengah kesibukan tugas-tugas kami itu.”

“Apa Kamu bilang!!! Pergi!!! Kamu tak pantas menemuiku!!!”

Terdengar tamparan keras yang menjungkalkan si oknum itu.

- - -

Sebuah refleksi…

Dalam satu hadis qudsi, pada hari kiamat kelak, dikisahkan Allah berdialog
dengan hambaNya. “Wahai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak
menjengukku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberiKu makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberiKu minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuimu dan menjengukMu, memberiMu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Allah SWT menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscaya Kau akan menjumpaiKu di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

::Dari tetangga sebelah

kisah air

March 27th, 2007 by maskresna

angin terbangkan kisah ke timur
sungai tlah bermuara disamudra pasir
menggenang, tenggelam dan hilang
tak sanggup mengejar laju

pada embun air bertanya
: adakah angin barat bertiup hari ini?
   hantarkan jiwa menuju cinta
   untuk kisah yang tak lagi terpisah

Untuk Cinta

December 29th, 2006 by maskresna

Inilah cintaku..
hakikat muasal,
dari tiada kembali tiada
kita fana dalam cinta
kita baka dalam cinta

Dan sebagai yang pernah mencari,
kita menemukan tambatan
Dan sebagai yang pernah pergi,
kita pulang istirah dibelaian kasih semesta

Si Peniup Seruling

October 31st, 2006 by maskresna

Peniup seruling jatuh, mati
tertebas pasukan waktu yang memburu
terkapar bersimbah darah di padang  ilalang
ditemani seruling bisu yang kini retak

Berhala

October 12th, 2006 by maskresna

bercerminlah
katakan,apa berhalamu

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KEJAHATAN?

September 21st, 2006 by maskresna

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah
kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang
Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang
mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan
menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul,
Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?"
Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa
tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan
segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu
ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa
kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab
hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan
menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau
agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata,
"Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya,
"Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu
ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa
mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin
itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu
adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama
sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada
suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan
ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan,
"Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga
tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa
kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton
untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan
mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak
bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan
berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan
ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu
ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang
telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan
TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia.
Perkara - perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab,

"Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan
adalah ketiadaan Tuhan.

Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai
manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan.

Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak
adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari
ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah:
Albert Einstein.

Tuhan Sembilan Senti

September 20th, 2006 by maskresna

Oleh Taufiq Ismail

*Indonesia *adalah* *sorga* *luar* *biasa* *ramah* *bagi* *perokok*, *
*tapi *tempat* *siksa* *tak* *tertahankan **bagi* *orang* yang *tak* *
merokok*,*

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

*Indonesia *adalah* *semacam* *firdaus-jannatu- na’im **sangat* *ramah* *
bagi* *perokok*, *
*tapi *tempat* *siksa **kubur* *hidup-hidup* *bagi* *orang* yang *tak **
merokok*,*

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok ???,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

*Negeri *kita* *ini* *sungguh* *nirwana* *kayangan **para* *dewa-dewa* *bagi
* *perokok*, *
*tapi *tempat* *cobaan **sangat* *berat* *bagi* *orang* yang *tak **merokok*
,*

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru , diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok ,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkanHIV-AIDS
sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya .
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

*Indonesia *adalah* *sorga* *kultur* *pengembangbiakan* *nikotin *paling *
subur* *di* *dunia* , *
*dan *kita* yang *tak* *langsung **menghirup* *sekali* pun *asap* *tembakau*
*itu* , *bisa* *ketularan* *kena* ,*

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok
merokok,

*Indonesia *adalah* *semacam* *firdaus-jannatu- na’im **sangat* *ramah* *
bagi* *orang* *perokok* , *
*tapi *tempat **siksa* *kubur* *hidup-hidup* *bagi* *orang* yang *tak* *
merokok*,*

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap . Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok .
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala
kecil,
*sembilan *senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan
setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya

Kedamaian

September 14th, 2006 by maskresna

Kehidupan adalah kematian dari segala bentuk keinginan
Disaat kita bisa mati dari segala bentuk keinginan itulah kedamaian
hadir ditengah hidup kita