Apabila kita benar2 mengamalkan KItab Suci
kita masing2, katakanlah, Sabda Ilahi, maka jalan kita pasti benar. Dengan
demikian juga jalan masyarakat, bangsa dan negara pasti benar.
Namun, apa yang terjadi? Ajaran Kitab Suci dipakai untuk menjadi pedang
terhunus untuk memusnahkan saudara2 lain yang tak sepanutan, tak seiman.
Tidak saja memusnahkan dalam arti lahiriah, namun terutama secara
rohaniah. Memojokkan. Mengapa? Karena agama kita gunakan menjadi wahana
mencapai kekuasaan. Nah, disinilah mulai terjadi musibah. Kekuasaan apa?
Kekuasaan atas manusia lain, kekuasaan atas sumber2 kekayaan alam,
kekuasaan atas kekayaan nasional…dst.
Azas sekularisme dalam hal ini, adalah 100% alat, bukan ajaran falsafah,
juga tak mempunyai legitimasi moralitas, asdalah mirip2 garis yang ada
dilapangan bola, lapangan tennis, lapangan volley, dll. Untuk mengingatkan
kita akan tempat dan peran kita masi ng2. That’s all.
Dalam azas sekularisme, adalah alami, maka
setiap warga suatu negara berjanji taat akan hukum bersama, hukum
nasional, yang terpisah dari hukum2 agama yang dianut dalam wilayah itu.
Hukum agama dibatasi pada pelaksanaan hid up kekeluargaan, ketetanggaan
dan kejemaatan. Dengan demikian, maka, akan terhindar pertikaian mengenai
soal jurisdiksi hukum apa yang harus dipakai.
Azas ini dilaksanakan di-negara2 yang sudah sangat maju dalam
mengedapkan martabat manusia, bangsa2 yang secara keseluruhan cukup
beramal. Juga sebuah negara Islam melaksanakannya dengan konsekwen:
Republik Turki.
Yang penting kita fahami dalam hal ini ialah, bukan apakah azas ini yang
terbaik atau conditio sine quanon untuk hidup bersama, bukan, namun, tak
ada kemungkinan lain yang dapat diterapkan, apalagi menggantikannya dengan
hukum SEBUAH agama, apabila dalam masyarakat itu hidup beragam anutan.
Dalil yang mengatakan, bahwa azas ini menyebabkan aib, kemaksiatan, dll,
adalah tak terbukti, karena memang tak ada hubungan kausal antara azas ini
dan kemaksiatan. Kemaksiatan tak dapat dihindarkan dengan menterapkan
hukum agama. Kita tak perlu berdebat dalam hal ini, karena bukti2 sejarah
sejak zaman antike telah kita alami. Pencurian, pembunuhan, perkosaan,
ber-mabuk2an tetap terjadi dalam negara2 yang kini masih melakukan azas
hukum agama (pemerkosaan TKW kita, misalnya).
Azas tertinggi adalah KASIH. Apapun yang kita lakukan harus keluar dari
rasa kasih: memberi bantuan, mengkritik sahabat/saudara, mendidik anak2,
memimpin negara, memberi derma, da n…berpuasa.
Jadi: bukan rasa takut. Kalau kita menghindari mabuk2an atau tak menyentuh
minuman keras, dll, maka itu kita lakukan karena rasa KASIH yang bersemi
dalam dada kita. Kasih karena kita berterimakasih atas anugerah Allah.
JADI: bukan karena takut di-kejar2 p olisi, atau takut terhadap serangan
pihak2 tertentu.
Kita berpuasa, karena kita ingin
merasakan kedekatan dengan Ilahi. Ingin
menjauhkan diri dari hiruk pikuk nafsu lahiriah. BUKAN karena diperintah
negara, takut diejek tetangga atau saudara2 ata u orang2 seumat.
Azas sekularisme sering terpaksa diangakt menjadi azas hukum nasional,
bukan karena hukum2 agama gagal. Bukan. Namun, karena manusia2 sering
merekayasa hukum agama untuk kepentingan2 manusiawi golongan sendiri. Ini
juga tidak baru, bukan dik? Bukalah lagi
buku sejarah dunia yang kita pelajari di sekolah menengah kita. Kita akan
segera ingat lagi. Mengapa Copernicus harus dibakar hidup2? Atas perintah
Sri Paus. Atas perintah gereja? Mengapa banyak orang2 Indian yang dibasmi
dengan kejam oleh orang2 Portugi s atas nama gereja? Mengapa ada orang2
yang dirajam atas nama Kitab Suci di-negara2 Arab?
Saya tidak berteriak, berseru dipadang gurun untuk menyerukan "pakailah
azas sekularisme", tetapi saya ingin menyerukan, hindarilah mengangkat
satu hukum agama (apapun) dinegeri kita untuk menjadi hukum negara.
Biarlah Allah yang bersabda dalam hati kita, mengingatkan kita, jangan
kita yang menghunuskan pedang dan memaksa saudara2 kita melaksanakan
ibadahnya. Amin.
Padmanaba
Padmanaba, adalah nama yang saya ambilkan dari pewayangan. Padmanaba
adalah seorang pandhita raksasa yang memasuki diri Narayana, nama Prabhu
Kresna semasa remaja. Pandhita ini menuntun Narayana alias Kresna yang
adalah titisan Vishnu dalam tugasnya membi mbing Pandawa mengambil jalan
yang benar (Bhagavad Gita).