Suatu ketika, Tuhan memanggil seorang oknum umat islam.
“Hei, Kamu! Kemana aja kamu!” Kata Tuhan, agak membentak.
“A-a-apa, maksud-MU, Tuhanku?” kata si oknum tergagap, bingung bercampur takut. Disusul kemudian dengan jawaban polos…
“Aku masih di bumi, kok, Tuhan. MembelaMU. Mempertahankan agamaMu. Menjaga akidah yang benar tentangMu.”
“Membelaku? Mempertahankan agamaku? Menjaga akidah?” kata Tuhan yang disahut dengan anggukan polos si oknum itu. “Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?”
Melihat pertanyaan Tuhan ini, si oknum menyunggingkan senyumnya, merasa itu adalah pertanyaan mudah. Dengan lugas, si oknum menjawab…
“Kami berhasil menekan Lia Eden dan pengikutnya. Walaupun saat ini dia sudah bebas dari penjara, tapi kami jamin, ajaran dan pengikutnya tak akan meluas…
Kami sudah berhasil menjadikan Mushadeq, yang pernah mengaku sebagai nabiMU untuk abad ini, bertaubat… Kami sudah berhasil menyudutkan Ahmadiyah… Kami melarang umatMU untuk mengucapkan ucapan selamat hari raya agama lain kepada pengikutnya… Kami haramkan sekulerisme, pluralisme, liberalisme… Kami haramkan nikah beda agama… Kami haramkan wanita jadi imam shalat…”
“Kami melarang Dewi Persik bergoyang… Kami mengharamkan goyang ngebor Inul… Film-film yang mengumbar pornoaksi kami larang tayang… Kami melarang ini… Kami mengharamkan itu… Kami menyesatkan aliran ini… Kami menyesatkan kelompok itu… Kami juga sedang membentuk tim investigasi untuk menyelidiki yoga. Kami sudah bla, bla, bla, bla, bla… Pokoknya kami sudah banyak berjuang untuk li i’laa i kalimatillah demi tegaknya ‘izzul islam wal muslimin…”
“O, begitu,” Tuhan mendengar jawaban si oknum dengan raut ekspresi biasa
saja. Si oknum seperti terlihat bangga dengan wajah berseri-seri.
“Btw, kamu dari mana?” kata Tuhan.
” Indonesia , Tuhanku.”
” Indonesia ? Yang banyak orang miskin itu? Kelaparan? Pengangguran? Yang pembangunan kesejahteraannya tidak merata? Yang ada bencana lumpur Lapindo di sidoarjo? Yang korban-korbannya banyak yang masih menderita? Yang sebagian umatnya pernah membakar “rumahKu” itu? Yang ini… Yang itu… Yang ini dan yang itu… bla… bla…”
“inggih, saestu, Tuhanku.”
“Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?” tanya Tuhan selanjutnya.
“Maaf, Tuhan, aku pikir sudah ada yang berwenang untuk menyelesaikan
masalah-masalah itu. Jadi kami tidak perlu turut campur. Lagian kami tidak
sempat melakukannya, di tengah kesibukan tugas-tugas kami itu.”
“Apa Kamu bilang!!! Pergi!!! Kamu tak pantas menemuiku!!!”
Terdengar tamparan keras yang menjungkalkan si oknum itu.
- - -
Sebuah refleksi…
Dalam satu hadis qudsi, pada hari kiamat kelak, dikisahkan Allah berdialog
dengan hambaNya. “Wahai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak
menjengukku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberiKu makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberiKu minuman?”
Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuimu dan menjengukMu, memberiMu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”
Lalu Allah SWT menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscaya Kau akan menjumpaiKu di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).
::Dari tetangga sebelah