Kebenaran agama adalah relatif, benarkah ?
September 11th, 2006 by maskresnaKebenaran
Kebenaran adalah sebuah keabsolutan tunggal yang berlaku pada semua hal, baik itu makhluk hidup maupun benda mati. Sifat dari kebenaran ini adalah gaib, karena tidak ada yang mengetahui dengan pasti,seperti apa kebenaran itu dan kebenaran seperti apa yang berlaku pada suatu hal, kecuali untuk beberapa hal yang telah terbukti kepastiannya dan apa yang telah dialami oleh sesuatu dalam rentang waktu tertentu. Sesungguhnya manusia hanya dapat menduga – duga kebenaran berdasarkan nalar, logika dan panca indranya.
Agama
Agama merupakan sebuah jalan keyakinan dalam kehidupan spiritual manusia, walaupun pada kenyataannya agama tidak hanya mengatur kehidupan spiritual manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, tetapi juga mengatur cara hidup manusia dalam berhubungan dengan manusia lainnya. Pada umumnya agama dibawa dan diperkenalkan oleh para Nabi dan Rasul yang diutus Tuhan untuk menyampaikan kebenaran, ada pula yang disampaikan oleh guru – guru spiritual dalam agama – agama tertentu.
Kebenaran agama
Perjalanan sebuah agama hingga saat ini merupakan perjalanan yang sangat panjang, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadinya asimilasi antara kebenaran Tuhan yang diajarkan para Nabi dan Rasul dengan kebudayaan, politik dan kepentingan dimana agama itu berada. Memang Tuhan telah menjajikan bahwa kitab-Nya tidak akan lekang oleh masa, namun yang terjadi adalah adanya perbedaan penafsiran terhadap kitab-Nya itu. Sebagian besar penafsir terjebak dalam claim of truth atas egonya sendiri. Tentu saja hasil penafsiran mereka sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya, keadaan emosionalnya, budaya dan segala hal yang ada di sekelilingnya. Lambat laun claim of truth dan pemahaman kitab yang berbeda – beda tersebut akan menjadi kebenaran bagi lingkungannya dengan berbagai cara, baik terserap dengan sendirinya atau pun melalui cara politisasi agama oleh kekuasaan. Karena memang tidak menutup kemungkinan claim of truth yang telah mengakar akan menyebabkan agama tampak angkuh, mengklaim agamanya lah yang paling benar dan yang lain adalah palsu, sehingga terbentuk keinginan untuk menjadi lakon yang signifikan dalam pembentukan tatanan masyarakat melalui aturan normatifnya yang diinterpretasikan menjadi ritual dan legalitas tertentu seperti yang tertuang dalam kitab – kitabnya, yang tentu saja menurut penafsiran versi mereka.
Ingat !! kebenaran sejati itu sifatnya absolut !!
Adanya perbedaan cara penafsiran kebenaran dalam kitab-Nya itu menyebabkan terjadinya perpecahan dan perbedaan dalam tata cara menjalani kehidupan spiritual, hubungan manusia dengan Tuhan, maupun hubungan manusia dengan manusia lainnya. Lalu agama seperti apa yang sekarang aku terima dan aku jalani? Adakah ini kebenaran absolut? Atau hanya merupakan hasil penafsiran kaum agamawan yang selalu memonopoli cara menafsirkan kitab suci Tuhan yang tak lekang oleh masa? Dan memaksakan ego claim of truthnya atas semua orang dengan meberikan label kafir dan murtad kepada orang yang dianggapnya berbeda.
“Ada berjuta jalan untuk sampai kepada Tuhan namun semuanya mesti melewati proses kepedihan bila aku berjalan tanpa terikat oleh jalan maka kuyakin … Tuhan sendiri akan menjadi jalan. “
“Kenalilah dirimu maka kau akan mengenal Tuhan mu”
